Selasa, 24 Januari 2017

BUDAYA

Tari cokek

Kebudayaan Tari Cokek adalah seni pertunjukan yg berkembang pada abad ke 19 M di Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Tarian khas Tangerang ini diwarnai budaya etnik Cina. Penarinya mengenakan kebaya yg disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Sejarah munculnya Tari Cokek berawal dari adanya pentas hiburan yg diadakan oleh para tuan tanah Tionghoa yg tinggal di Tangerang. Dalam pentas seni itu, Tan Sio Kek, yg merupakan salah satu tuan tanah di Tangerang, mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud partisipasinya dalam pesta hiburan rakyat itu. Pada awalnya, dia menyisipkan tarian para gadis cantik tersebut sebagai pertunjukan tambahan. Namun, berawal dari pertunjukan tambahan itulah, kemudian para penari ini menjadi terkenal & berdiri sendiri sebagai kelompok penari yg kemudian tariannya dinamakan Tari Cokek. Kata “cokek” diambil dari tuan tanah yg bernama Tan Sio Kek, orang pertama yg mengilhami pertunjukan tarian ini.
Pembukaan pada tari cokek ialah wawaygan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penari, yg dianggap tabu oleh sebagian masyarakat lantaran dalam peragaannya, pria & wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan.
Keistimewaan Tari Cokek terlihat pada gerakan tubuh penarinya yg bergerak perlahan-lahan, sehingga mudah untuk diikuti. Tarian diawali dari formasi memanjang, di mana antara satu penari dengan penari lainnya saling bersebelahan. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju mundur dengan diikuti rentangan tangan setinggi bahu. Rentangan tangan itu disesuaikan dengan gerakan kaki yg bergerak maju mundur tersebut. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan ajakan kepada para penonton untuk ikut bergabung menari. Ajakan kepada para penonton itu dilakukan dengan cara mengalungkan selendang ke leher sambil menariknya maju ke depan. Ajakan itu umumnya ditujukan kepada tamu undangan yg terdiri dari para pemuka masyarakat & orang kaya setempat. Proses menari bersama ini dilakukan berdekatan antara penari dengan penonton, tapi tidak saling bersentuhan.
Selain gerakannya yg pelan & mudah diikuti, tari cokek juga memiliki keistimewaan lainnya yaitu busana penarinya. Busana yg dipakai para penari cokek adalah kebaya yg terbuat dari kain sutra yg berwarna hijau, merah, kuning, & ungu. Warna kain ini dapat bertambah mencolok ketika terkena pancaran sinar lampu. Kilauan busana ini menambah indahnya nuansa warna pada busana itu. Selain keindahan busananya, rambut para penari yg dikepang & dipasangi sanggul juga menambah kecantikan para penari itu.
Tari Cokek biasanya dipentaskan di Rumah Kawin yg terletak di Jalan Selapajang Jaya, Kampung Melayu, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten, Indonesia.
Tangerang Selatan merupakan salah satu kota yang masih terbilang baru yang terletak di provinsi Banten. Pembahasan mengenaikeberagaman khas budaya Tangsel ternyata tidak kalah menarik dengan pembicaraan kebudayaan provinsi Banten sendiri yang kaya akan keberagamannya. Tidak jauh berbeda, kota Tangerang Selatan juga terdiri atas budaya yang amat beragam. Mayoritas masyarakatnya terdiri atas beragam suku, ras, dan agama yang berbeda mulai dari suku Betawi, Sunda, Jawa, sampai Tionghoa begitu juga dengan keberagaman agamanya. Masyarakat Tangerang Selatan memiliki keberagaman agama yang cukup kaya yaitu didominasi pemeluk agama Islam disusul dengan pemeluk agama Kristen, Katolik, Budha dan yang terakhir Hindu. Maka dari itulah nilai-nilai kebudayaan kota Tangerang Selatan sangat dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Betawi, dan juga Sunda.
Hal ini sangat berpengaruh terutama pada nilai-nilai kebudayaan setempat seperti kesenian dan bahasanya. Berbicara mengenai keberagaman khas budaya Tangsel, dari segi bahasa masyarakat Tangerang Selatan sendiri memiliki keberagaman penggunaan bahasa seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, Sunda, dan juga Betawi. Lalu bagaimana dengan keseniannya? Ada beberapa jenis kesenian yang khas dari Tngerang Selatan, diantaranya adalah :

Tari Lenggang Cisadane


Merupakan tarian yang khas dan berkembang di kalangan masyarakat wilayah Tangerang. Kesenian ini merupakan jenis tarian baru yang berasal dari keberagaman budaya yang bercampur menjadi satu.

Kebudayaan Palang Pintu

Merupakan kebudayaan yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Betawi dan diselenggarakan pada saat upacara pernikahan di mana melibatkan dua orang tokoh pria yang saling beradu pantun dan juga melakukan adegan pencak silat dengan senjata sejenis golok.

Seni Lenong

Tidak jauh berbeda dengan kebudayaan sebelumnya, seni lenong juga banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Betawi yang amat kental. Hal ini disebabkan karena letak kota Tangerang Selatan yang sangat berdekatan dengan Jakarta sehingga budaya masyarakat Betawi sebagai masyarakat pendatang banyak mempengaruhi.
Pembicaraan terkait keberagaman khas budaya Tangsel di sini akan lebih ditekankan pada tarian Lenggang Cisadane. Tarian ini menjadi menarik untuk dibicarakan karena tarian Lenggang Cisadane merupakan tarian khas yang asli dari daerah Tangerang Selatan. Tarian ini merupakan tarian yang masih tergolong baru karena perkembangannya baru dimulai terhitung sejak tahun 2011 kemarin. Tarian ini merupakan tarian yang menggambarkan pencampuran kebudayaan yang teramat kental yaitu antara pencampuran budaya Betawi, China, Sunda dan juga Arab. Maka dari itu hal ini sangat menggambarkan kondisi kebudayaan masyarakat Tangerang Selatan itu sendiri yang memang memiliki budaya yang sangatlah beragam dan untuk itu pulalah tarian ini ditujukan untuk diciptakan sebagai identitas diri masyarakat kota Tangerang.

Pencampuran budaya ini sebenarnya sangatlah terlihat dari gerakan tarian tersebut, musik yang digunakan untuk mengiringi tarian, dan juga pakaian atau kostum penari yang khas. Tarian Lenggang Cisadane ini ditarikan oleh penari perempuan berjumlah 13 orang. Disimbolkan untuk melambangkan jumlah kecamatan yang ada di kota Tangerang itu sendiri. Dilihat dari gerakannya, sebenarnya tarian ini sangatlah mirip dengan tarian Jaipong dan juga tari Jali-Jali yang merupakan warisan leluhur budaya Betawi yang berumur sudah cukup melegenda. Nama tarian ini sendiri diambil dari nama sungai yang terdapat di daerah Tangerang tersebut. Hal itu ditujukan agar menjadi identitas yang khas dari budaya Tangerang. Maka dari itu beragam kesenian, keberagaman dan juga nilai-nilai keberagaman khas budaya Tangsel ini harus tetap dilestarikan agar tidak cepat pudar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar