Selasa, 24 Januari 2017

BUDAYA

Tari cokek

Kebudayaan Tari Cokek adalah seni pertunjukan yg berkembang pada abad ke 19 M di Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Tarian khas Tangerang ini diwarnai budaya etnik Cina. Penarinya mengenakan kebaya yg disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Sejarah munculnya Tari Cokek berawal dari adanya pentas hiburan yg diadakan oleh para tuan tanah Tionghoa yg tinggal di Tangerang. Dalam pentas seni itu, Tan Sio Kek, yg merupakan salah satu tuan tanah di Tangerang, mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud partisipasinya dalam pesta hiburan rakyat itu. Pada awalnya, dia menyisipkan tarian para gadis cantik tersebut sebagai pertunjukan tambahan. Namun, berawal dari pertunjukan tambahan itulah, kemudian para penari ini menjadi terkenal & berdiri sendiri sebagai kelompok penari yg kemudian tariannya dinamakan Tari Cokek. Kata “cokek” diambil dari tuan tanah yg bernama Tan Sio Kek, orang pertama yg mengilhami pertunjukan tarian ini.
Pembukaan pada tari cokek ialah wawaygan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penari, yg dianggap tabu oleh sebagian masyarakat lantaran dalam peragaannya, pria & wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan.
Keistimewaan Tari Cokek terlihat pada gerakan tubuh penarinya yg bergerak perlahan-lahan, sehingga mudah untuk diikuti. Tarian diawali dari formasi memanjang, di mana antara satu penari dengan penari lainnya saling bersebelahan. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju mundur dengan diikuti rentangan tangan setinggi bahu. Rentangan tangan itu disesuaikan dengan gerakan kaki yg bergerak maju mundur tersebut. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan ajakan kepada para penonton untuk ikut bergabung menari. Ajakan kepada para penonton itu dilakukan dengan cara mengalungkan selendang ke leher sambil menariknya maju ke depan. Ajakan itu umumnya ditujukan kepada tamu undangan yg terdiri dari para pemuka masyarakat & orang kaya setempat. Proses menari bersama ini dilakukan berdekatan antara penari dengan penonton, tapi tidak saling bersentuhan.
Selain gerakannya yg pelan & mudah diikuti, tari cokek juga memiliki keistimewaan lainnya yaitu busana penarinya. Busana yg dipakai para penari cokek adalah kebaya yg terbuat dari kain sutra yg berwarna hijau, merah, kuning, & ungu. Warna kain ini dapat bertambah mencolok ketika terkena pancaran sinar lampu. Kilauan busana ini menambah indahnya nuansa warna pada busana itu. Selain keindahan busananya, rambut para penari yg dikepang & dipasangi sanggul juga menambah kecantikan para penari itu.
Tari Cokek biasanya dipentaskan di Rumah Kawin yg terletak di Jalan Selapajang Jaya, Kampung Melayu, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten, Indonesia.
Tangerang Selatan merupakan salah satu kota yang masih terbilang baru yang terletak di provinsi Banten. Pembahasan mengenaikeberagaman khas budaya Tangsel ternyata tidak kalah menarik dengan pembicaraan kebudayaan provinsi Banten sendiri yang kaya akan keberagamannya. Tidak jauh berbeda, kota Tangerang Selatan juga terdiri atas budaya yang amat beragam. Mayoritas masyarakatnya terdiri atas beragam suku, ras, dan agama yang berbeda mulai dari suku Betawi, Sunda, Jawa, sampai Tionghoa begitu juga dengan keberagaman agamanya. Masyarakat Tangerang Selatan memiliki keberagaman agama yang cukup kaya yaitu didominasi pemeluk agama Islam disusul dengan pemeluk agama Kristen, Katolik, Budha dan yang terakhir Hindu. Maka dari itulah nilai-nilai kebudayaan kota Tangerang Selatan sangat dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Betawi, dan juga Sunda.
Hal ini sangat berpengaruh terutama pada nilai-nilai kebudayaan setempat seperti kesenian dan bahasanya. Berbicara mengenai keberagaman khas budaya Tangsel, dari segi bahasa masyarakat Tangerang Selatan sendiri memiliki keberagaman penggunaan bahasa seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, Sunda, dan juga Betawi. Lalu bagaimana dengan keseniannya? Ada beberapa jenis kesenian yang khas dari Tngerang Selatan, diantaranya adalah :

Tari Lenggang Cisadane


Merupakan tarian yang khas dan berkembang di kalangan masyarakat wilayah Tangerang. Kesenian ini merupakan jenis tarian baru yang berasal dari keberagaman budaya yang bercampur menjadi satu.

Kebudayaan Palang Pintu

Merupakan kebudayaan yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Betawi dan diselenggarakan pada saat upacara pernikahan di mana melibatkan dua orang tokoh pria yang saling beradu pantun dan juga melakukan adegan pencak silat dengan senjata sejenis golok.

Seni Lenong

Tidak jauh berbeda dengan kebudayaan sebelumnya, seni lenong juga banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Betawi yang amat kental. Hal ini disebabkan karena letak kota Tangerang Selatan yang sangat berdekatan dengan Jakarta sehingga budaya masyarakat Betawi sebagai masyarakat pendatang banyak mempengaruhi.
Pembicaraan terkait keberagaman khas budaya Tangsel di sini akan lebih ditekankan pada tarian Lenggang Cisadane. Tarian ini menjadi menarik untuk dibicarakan karena tarian Lenggang Cisadane merupakan tarian khas yang asli dari daerah Tangerang Selatan. Tarian ini merupakan tarian yang masih tergolong baru karena perkembangannya baru dimulai terhitung sejak tahun 2011 kemarin. Tarian ini merupakan tarian yang menggambarkan pencampuran kebudayaan yang teramat kental yaitu antara pencampuran budaya Betawi, China, Sunda dan juga Arab. Maka dari itu hal ini sangat menggambarkan kondisi kebudayaan masyarakat Tangerang Selatan itu sendiri yang memang memiliki budaya yang sangatlah beragam dan untuk itu pulalah tarian ini ditujukan untuk diciptakan sebagai identitas diri masyarakat kota Tangerang.

Pencampuran budaya ini sebenarnya sangatlah terlihat dari gerakan tarian tersebut, musik yang digunakan untuk mengiringi tarian, dan juga pakaian atau kostum penari yang khas. Tarian Lenggang Cisadane ini ditarikan oleh penari perempuan berjumlah 13 orang. Disimbolkan untuk melambangkan jumlah kecamatan yang ada di kota Tangerang itu sendiri. Dilihat dari gerakannya, sebenarnya tarian ini sangatlah mirip dengan tarian Jaipong dan juga tari Jali-Jali yang merupakan warisan leluhur budaya Betawi yang berumur sudah cukup melegenda. Nama tarian ini sendiri diambil dari nama sungai yang terdapat di daerah Tangerang tersebut. Hal itu ditujukan agar menjadi identitas yang khas dari budaya Tangerang. Maka dari itu beragam kesenian, keberagaman dan juga nilai-nilai keberagaman khas budaya Tangsel ini harus tetap dilestarikan agar tidak cepat pudar.

Selasa, 17 Januari 2017

KULINER


TEMPAT WISATA

1. Masjid Pintu Seribu


Tempat wisata religi lainnya yang menarik untuk anda kunjungi ketika berada di Tangerang adalah Masjid Pintu Seribu. Jika masjid sebelumnya terkenal dengan kemegahannya, masjid yang satu ini terkenal dengan keunikannya. Masjid yang dijuluki dengan Pintu Seribu adalah Masjid Agung Nurul Yaqin. Masjid ini berdiri di atas tanah dengan luas satu hektar.

Pendiri masjid ini adalah seorang keturunan Arab. Masjid ini didirikan pada tahun 1978. Lokasinya berada di Kampung Bayur Tangerang. Keunikan lainnya masjid ini adalah adanya tasbih dengan ukuran besar yang terbuat dari kayu. Desainnya yang unik membuat banyak wisatawan banyak yang datang ke masjid ini. Banyak wisatawan yang ingin melihat bangunan masjid ini dan tasbih raksasa yang ada di Masjid ini. Wisatawan yang datang ke sini tidak hanya berasal dari dalam negara saja, namun pengunjung dari luar daerah bahkan neraga seperti Malaysia dan Brunei pun banyak yang datang kesini untuk melihat keunikan dari masjid ini.
2. Water World Citra Raya

Tangerang memiliki banyak sekali wisata air buatannya. Wisata air buatan lainnya yang bisa anda temukan di Tangerang adalah Water World Citra Raya. Bagi anda yang memiliki anak anak bisa berkunjung ke tempat wisata yang satu ini sebab kebanyakan anak anak akan suka saat bekrunjung kesini. Banyaknya wahana air yang ada disini membuat pengunjung anak anak betah saat bermain air disini. Lokasi wisata air ini ada di engah pemukiman paling besar di daerah Cikupa Kota Tangerang Barat.

Suasananya yang nyaman dan sarana wisatanya yang menarik membuat kesenangan berwisata air tidak akan pernah hilang. Memang wisata air ini tidak sebesar dengan wisata air sebelum sebelumnya. Namun suasana wisata yang anda dapatkan disini tidak kalah menarik dan menyenangkannya dengan wahana wisata air lainnya. Suasana di tempat wisata air ini mirip dengan Atlantic Dreamland yang ada di Salatiga dan menjadi unggulan tempat wisata air yang ada disana.

3. Klenteng Boen Tek Bio

Tempat wisata unik lainnya yang bisa anda kunjungi ketika berada di Tangerang adalah Klenteng Boen Tek Bio. Tempat wisaa ini disebut unik sebab klenteng ini merupakan klenteng tertua yang ada di Tangerang. Bahkan tidak tanggung tanggung, usia dari Klenteng ini berumur lebih dari tiga abad lamanya. Lokasi Klenteng ini berada di Jalan Bhakti Nomor 14 Pasar Lama Tangerang. Sebelum masuk ke klenteng ini ada beberapa aturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung.

Peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung Klenteng adalah pengunjung tidak boleh masuk ke dalam area peribadahan serta ada batasan batasan yang harus dipatuhi pengunjung. Pengunjng yang datang ke Klenteng tidak boleh melewati perbatasan yang telah ditentukan. Sebenarnya design dari Klenteng Boen Tek Bio ini sama dengan klenteng klenteng yang lainnya. Hanya saja yang berbeda adalah di aula utama dari klenteng ini ada altar untuk Dewa Bumi, di bagian depan klenteng ada ruang Bi Lek Hud atau Mi Le Fo Dewa yang Maha Pengasih dan juga Penolong.
4. Hutan Kota BSD


Anda sedang mencari ketenangan dan kenyamanan?, anda bisa mengunjungi Hutan BSD kota Tangerang. Lokasi wisata ini cocok bagi anda yang menyukai wisata alam. Adanya hutan ini menunjukkan fakta bahwa meski Tangerang kota padat, pemerintah Tangerang tetap memikirkan adanya lahan hijau yang bisa digunakan untuk penduduk Tangerang menghirup udara yang segar. Hutan yang ada di Kota Tangerang ini bukanlah hutan alami, namun merupakan hutan buatan yang sangat asyik untuk anda jadikan sebagai arena jalan jalan dan juga area untuk jogging. Udara pagi hari di hutan ini sangat sejuk sehingga cocok bagi anak anak yang setiap harnya menghirup asap kendaraan akibat padatnya Kota Tangerang.
Hutan ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu BSD 1 dan BSD 2. Dinamakan hutan BSD sebab hutan itu dikelola oleh perumahan BSD yang terletak di dua lokasi. Hutan BSD pertama letaknya ada di dekat Ocean Park, untuk lokasi hutan BSD yang kedua ini ada di Taman Tekno. Taman Tekno letaknya ada di Jalur menuju Parung, Bogor. Di lokasi hutan BSD yang pertama, vegetasi tanaman yang ada disana tergolong padat sehingga saat anda berkunjung disana, anda seperti berada di tengah tengah hutan rimba yang lebat.
5. Wisata Taman Buaya Tanjung Pasir

Tempat wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi sata berada di Tangerang adalah Wisata Taman Buaya Tanjung Pasir.  Tempat wisata ini merupakan tempat wisata yang cocok dikunjungi bersama dengan anak anak, terutama untuk anda yang memiliki anak kecil. Anda bisa mengenalkan hewan buaya kepada anak anda, namun yang harus diingat disini adalah anda harus tetap mengawasi anak anak anda. Jangan sampai anak anda lepas dari jangkauan dan pandangan anda.
Wisata Taman Buaya Tanjun Pasir adalah penangkaran buaya yang cukup terkenal di Kota Tangerang. Lokasi dari tempat wisata ini ada di Kecamatan Teluk Naga, kota Tangerang. Ciri khas dari taman ini adalah adanya ikon berupa patung buaya taksasa yang ada di tepi jalan. Tempat wisata ini buka sejak tahun 2002, sehingga tidak mengherankan jika saat ini taman wisata ini memiliki buaya sekitar 500 an ekor. Pengunjung bisa melihat berbagai macam jenis buaya yang ditangkar disana, tidak hanya itu saja, pengunjung juga bisa melihat berbagai macam produk yang terbuat dari kulit buaya misalnya saja adalah tas buaya, dompet dari kulit buaya, ikat pinggang dari kulit baya dan masih banyak lagi lainnya. Keunikan dari tempat ini lainnya adalah anda bisa membeli telur buaya yang nantinya bisa anda tetaskan di rumah.

6. Cigaru - cisoka


Demam traveling melanda warga dunia tak terkecuali Indonesia. Kini traveling bukan sekedar kebutuhan mewah namun telah berubah menjadi gaya hidup. Tarcatat, telah banyak obyek wisata baru yang dibuka sepanjang dua tahun terakhir lantaran tingginya minat traveler mengeksplorasi daerah-daerah tersembunyi. Bahkan tempat yang biasa saja bisa disulap menjadi spot traveling yang menyenangkan.

Seperti di kabupaten Tangerang ini, bekas galian pasir berubah wajah jadi tempat wisata dadakan yang keren. Adalah bekas galian pasir di kampung Cigaru, desa Cisoka kecamatan Cisoka, kabupaten Tangerang. Lubang yang dihasilkan dari aktivitas tambang tergenang air yang kemudian menjadikannya telaga buatan.
Warga sekitar menamainya dengan Telaga Biru Cigaru yang diambil dari penampakan air telaga yang berwarna biru dan terkadang berubah menjadi bening dan kekuningan. Telaga ini sebelumnya tidak pernah dipedulikan namun pada akhir tahun 2015 saat kemarau panjang warna air telaga yang berubah menjadi biru langsung menarik perhatian warga sekitar.

Sebelumnya telaga ini adalah area tambang pasir yang sudah tidak beroperasi selama dua tahun. Lubang-lubang sedalam belasan meter tersebut kemudian terisi oleh air hujan yang menyulapnya menjadi telaga. Karena faktor alam yang dipicu kemarau panjang di tahun 2015 lalu, membuat air telaga berubah warna menjadi biru yang indah.

Sejak saat itulah kabar munculnya telaga biru dikenal traveler luas dari mulut ke mulut dan dipercepat oleh arus peredaran foto di sosial media. Kemudian oleh pemerintah desa setempat danau tersebut dikelola dan dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata. Setiap akhir pekan kawasan Telaga Biru Cigaru tidak pernah sepi pengunjung yang didominasi anak muda.
Terang saja dalam waktu singkat Danau Biru Cigaru mampu menarik jumlah kunjungan yang banyak lantaran panorama danau ini terlihat keren saat difoto. Lagi pula jarang sekali ada tempat keren seperti ini di dalam kawasan Tangerang yang identik dengan kawasan padat. Kini pengunjung yang datang bukan sekedar menikmati pemandangan telaga dari pinggir saja namun juga bisa berkeliling telaga menggunakan perahu sampan. Sudah pernah berkunjung ke telaga ini?

HOTEL


1. Aryaduta Lippo Village






Jika apa yang Anda cari adalah hotel yang terletak strategis di Tangerang, carilah Aryaduta Lippo Village. Hotel ini terletak 23. Km dari pusat kota dan menyediakan kemudahan akses ke fasilitas-fasilitas penting kota ini. Supermal Karawaci, Rumah Sakit Umum Siloam, Siloam Hospitals Lippo Village juga bisa dijangkau dengan mudah.

Di Aryaduta Lippo Village, pelayanan istimewa dan fasilitas yang unggul akan membuat pengalaman menginap Anda tidak terlupakan. Para tamu hotel ini dapat menikmati fasilitas di tempat seperti layanan kamar 24 jam, WiFi gratis di semua kamar, satpam 24 jam, layanan kebersihan harian, toko oleh-oleh/cinderamat 

Hotel ini memiliki 190 kamar yang didesain dengan indah. Banyak kamar memiliki ruang penyimpanan pakaian, teh gratis, handuk, timbangan, sandal. Disamping itu, hotel memiliki berbagai pilihan fasilitas rekreasi yang menjamin Anda melakukan bermacam hal selama menginap. Apapun alasan Anda mengunjungi Tangerang, Aryaduta Lippo Village adalah tempat yang sempurna untuk liburan yang menyenangkan.




2. Great Western Resort Serpong Hotel & Convention Center 



Terletak strategis di Tangerang, Great Western Resort Serpong Hotel & Convention Ce adalah tempat yang luar biasa untuk menelusuri kota yang aktif ini. Terletak hanya 1 km dari pusat kota, para tamu berada di tempat strategis untuk menikmati obyek wisata dan aktivitas di kota ini. Lingkungan yang terawat dengan baik serta lokasi yang berdekatan dengan Rumah Sakit Qadr, Summarecon Mal Serpong, Benton Junction memberikan nilai tambah untuk hotel ini.

Di Great Western Resort Serpong Hotel & Convention Ce, setiap upaya dilakukan untuk membuat tamu merasa nyaman. Dalam hal ini, hotel menyediakan pelayanan dan fasilitas yang terbaik. Untuk kenyamanan para tamu, hotel ini menawarkan layanan kamar 24 jam, WiFi gratis di semua kamar, resepsionis 24 jam, fasilitas untuk tamu dengan kebutuhan khusus, check-in/check-out cepat.

         
Hotel ini memiliki 135 kamar yang didesain dengan indah. Banyak kamar memiliki televisi layar datar, akses internet - WiFi, akses internet WiFi (gratis), kamar bebas asap rokok, AC. Daftar lengkap fasilitas rekreasi tersedia di hotel termasuk pusat kebugaran, lapangan golf (sekitar 3 km), kolam renang luar ruangan, kolam renang anak, olahraga air (tak-bermesin). Fasilitas super dan lokasi yang istimewa menjadikan Great Western Resort Serpong Hotel & Convention Ce tempat yang sempurna untuk menikmati penginapan Anda selama di Tangerang. 

3. Hotel Santika BSD City Serpong




Terletak strategis di area berbelanja, melakukan aktivitas bisnis, restoran di Tangerang, Hotel Santika BSD City Serpong menyediakan tempat yang kondusif untuk melepas penat dari kesibukan Anda. Dari sini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang aktif ini. Bagi Anda yang ingin berjalan-jalan, Ocean Park BSD, Damai Indah Golf & Country Club - BSD, Aeon Mall hanyalah beberapa dari obyek wisata yang tersedia bagi para pengunjung.



Santika Indonesia Hotels & Resorts terkenal akan pelayanannya yang berkualitas dan staf yang ramah, dan Hotel Santika BSD City Serpong memenuhi ekspektasi tersebut. Untuk kenyamanan para tamu, hotel ini menawarkan WiFi gratis di semua kamar, layanan kamar 24 jam, Wi-fi di tempat umum, parkir valet, tempat parkir mobil.


Sebagai tambahan, semua kamar tamu memiliki sejumlah kenyamanan seperti televisi layar datar, akses internet - WiFi, akses internet WiFi (gratis), kamar bebas asap rokok, AC untuk menyenangkan semua tamu. Spa, pijat di hotel ini adalah tempat-tempat ideal untuk bersantai setelah hari yang sibuk. Fasilitas super dan lokasi yang istimewa menjadikan Hotel Santika BSD City Serpong tempat yang sempurna untuk menikmati penginapan Anda selama di Tangerang.


4. Hotel Ibis Styles Jakarta Airport  





Terletak di Jl. Raya Bandara Soekarno HattaKp. Rawa Bokor, Tangerang, Hotel bintang 3,5 ini dilengkapi dengan berbaagai fasilitas, seperti :
  • Sarapan prasmanan gratis, Wi-Fi gratis, dan tempat parkir gratis
  • 251 kamar tamu bebas-rokok
  • Restoran dan bar/lounge
  • Kolam renang outdoor
  • Antar-jemput bandara gratis
  • Pusat kebugaran
  • Layanan spa
  • Pusat bisnis 24 jam
  • Transportasi bandara
  • Resepsionis 24 jam
  • AC
  • Layanan pembersihan harian
  • Unit komputer


5.  POP Hotel BSD City Tangerang





Terletak di pusat Kota Bumi Serpong Damai. Hotel BSD City Tangerang hanya 45 menit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan mudah dijangkau dari Jakarta dengan kendaraan umum maupun pribadi. Hotel ini dekat dengan mal ITC, Teraskota mall, Living world mall, Ocean Park dan Damai Indah Golf. Untuk semua kamar POP! memiliki tempat tidur nyaman, Pod Shower Inovatif, akses internet Wifi gratis dan banyak lagi.
Berikut ini tempat menarik sekitar hotel yaitu: kurang dari 5 menit berkendara Terras kota Mall, tidak kurang dari 3 menit berjalan kaki menuju supermarket Giant, kurang dari 3 menit berjalan kaki Anda menuju Ocean Park
Alamat : Sunburst CBD Lot II 18A Tangerang
Tarif mulai dari : Rp. 345.500 per malam

SEJARAH TANGERANG SELATAN





SEJARAH TANGERANG SELATAN 


Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu daerah hasil pemekaran Kabupaten Tangerang. Kota Tangerang Selatan atau yang disingkat dengan Tangsel, terletak di bagian timur Provinsi Banten yaitu pada titik koordinat 106'38' - 106'47’ Bujur Timur dan 06'13'30' - 06'22'30' Lintang Selatan. Tangsel merupakan kota terbesar kedua di wilayah Provinsi Banten, dan juga menjadi wilayah terbesar kelima di kawasan Jabodetabek.


Berdirinya Kota Tangsel melalui proses yang lumayan panjang dan alot. Dimulai ditahun 1999, beberapa aktor intelektual dibalik berdirinya kota Tangsel yakni Drs.Hidayat, Sunaryo Supardi, Ust. Muhari, Ust. Zubaidi Ahmad Saidi, Susetyohadi, dan MB Romsay. Mereka merupakan warga asal Pamulang yang mulai resah dengan beberapa problem seperti kemacetan di pasar Ciputat, sampah, penataan & pengelolaan kota yang tak terurus, dan jarak dari wilayah mereka ke pusat pemerintahan Kab. Tangerang di Tigaraksa terbilang jauh (± 50 km). 

Mereka mencoba menuangkan aspiranya untuk mengubah kondisi wilayah Kecamatan Ciputat, Pamulang, Serpong, dan Pondok Aren (Cipasera) menjadi daerah otonomi terpisah dari Kabupaten Tangerang. Hal tersebut diperkuat dengan UU no 22 tahun 1999 yang mengatur tentang Otonomi Daerah. Saat beberapakali perbincangan, pada akhirnya mereka membentuk Komite Persiapan Pembentukan Daerah Otonom Kota Cipasera (KPPDO-KC). Kelompok tersebut diketuai oleh Basuki Rahardjo dengan sekretaris Hidayat berdasarkan hasil pemilihan melalui voting yang mereka buat.

Setelah terbentuk KPPDO-KC, muncul ide untuk membuat korwil di setiap kecamatan dan mereka juga mensosialisasikan idenya dengan menulis artikel diberbagai media cetak. Untuk mempermudah proses persetujuan, mereka membuat tim yang disebar di enam Kecamatan untuk mengumpulkan tanda tangan para sesepuh ataupun tokoh masyarakat. Hampir semua kepala daerah yang mereka temui setuju, namun Kades di Kecamatan Serpong menolak untuk tanda tangan, akan tetapi beberapa Kades lainnya di Kecamatan yang sama menyatakan persetujuannya secara lisan.

Setelah dibekali dengan beberapa tanda tangan dari kepala daerah, KPPDO-KC mengirim surat kepada DPRD Kabupaten Tangerang terkait aspirasinya, namun sayangnya tidak ditanggapi. Karena sudah menunggu lama tetapi tidak direspon,  KPPDO-KC mengirimkan surat kedua yang dibawa langsung oleh ketua dan temani oleh para pengurus. Rombongan tersebut kemudian diterima oleh Komisi A yang saat itu diketuai oleh Norodom Sukarno.

Khamrin Ja’far (Saat itu menjabat Wakil Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tangerang) mengusulkan untuk menemui semua fraksi. Usaha yang dilakukan KPPDO-KC dengan beberapa kali mengirim surat kepada Ketua DPRD dan Bupati Tangerang (saat itu dijabat oleh Agus Djunara) tidak pernah ditanggapi. Setelah itu Ketua KPPDO-KC mencoba menemui Ketua DPRD (H Dadang Kartasasmita) di rumah dinasnya di kawasan Citra Raya. Dadang mengatakan, pemekaran Kabupaten Tangerang dirasa kurang tepat.

Gagal mendapat persetujuan dari Ketua DPRD, mereka mencoba meloby Patrialis Akbar (Anggota Komisi II DPR-RI), namun ia menyarankan agar sesuai prosedur yakni melalui persetujuan DPRD Kabupaten dan Bupati. Kegagalan kedua tak memutuskan asa dari KPPDO-KC, mereka justru meningkatkan intensitas sosialisasi dan penetrasi dengan menulis artikel di koran lokal dan nasional, menggelar seminar, membuat spanduk diberbagai wilayah Cipasera dan menyebar pamplet- di beberapa tempat.
  
KPPDO-KC menggelar Deklarasi Cipasera di Gedung Pusdiklat Departemen Agama pada Tanggal 31 Maret 2002, yang dihadiri lebih dari 1000 orang dari beberapa lapisan masyarakat. Deklarasi tersebut mendapat pengawalan dari pasukan garda FKPP (Forum Komunikasi Pemuda Pagedangan). Acara itu diliput oleh media cetak dan elektronik baik lokal maupun nasional. Dari situlah timbul kembali harapan yang besar, Tiga hari berselang Ketua KPPDO-KC diundang oleh Stasiun televisi swasta, Metro TV, untuk mengisi acara dialog interaktif. KPDDO-KC menerbitkan buku :”Kajian Awal, Pembentukan Daerah Otonom Kota Cipasera” yang ditulis oleh Basuki Rahardjo dan Hidayat.  

Beberapa organisasi masyarakat di wilayah Cipasera dengan terang-terangan menyutujui gagasan dari KPPDO-KC. Dibentuklah aliansi antar ormas dengan KPPDO-KC dalam bentuk Komisariat Bersama Cipasera yang diketuai dari masing-masing organisasi dan dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal, Hidayat (Ketua KPPDO-KC yang baru). Dengan demikian terbentuklah tiga organisasi baru yang memperjuangkan terbentuknya kota Cipasera yaitu KPPDO-KC (pelopor), Bakor (Badan Koordinasi) Cipasera, dan Komber (Komisariat Bersama) Cipasera.

Basuki Rahardjo sebagai Sekretaris Komisi A menyusun naskah surat dari Komisi A kepada Ketua Panmus (ketua DPRD) yang berisi terkait rekomendasi agar Panitia Musyawarah membuat agenda pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Pemekaran Daerah. Surat ditandatangani oleh Daka Udin (Wakil Ketua Komisi A saat itu). Namun pada rapat Panmus banyak ditentang oleh anggota Panmus lainnya, diantara mereka tidak setuju dengan adanya Pansus.

Al Mansyur sebagai anggota Panmus mengusulkan untuk mengundang Bupati terlebih dahulu. Dari situlah mullai perdebatan sengit, dalam jajak pendapat, Bupati menyatakan setuju asalkan terbentuk menjadi dua kota, akan tetapi itu tidak mungkin. Panmus membentuk Pokja tentang pemekaran daerah (Pokja sebetulnya tidak dikenal di dalam tata tertib DPRD periode th 2004-2009). Pokja kemudian menghasilkan kajian ilmiah dari Prof. DR. Sadu Wasistiono lulusan Universitas Langlangbuana, Bandung, terkait pemekaran daerah Kabupaten Tangerang.

Dalam rapat paripurna yang dilakukan anggota legislatif, diusulkan beberapa nama untuk daerah pemekaran itu antara lain; Kota Cipasera, Kota Ciputat, Kota Serpong, Kota Lengkong, dan Kota Tangerang Selatan. Dari hasil voting saat itu, terpilihlah nama Kota Tangerang Selatan. Sedangkan batas wilayah berdasarkan hasil kajian Prof DR Sadu Wasistiono yakni mencakup Kec. Ciputat, Cisauk, Pamulang, Serpong, dan Pondok Aren. Berarti wilayah Cipasera diusung mengurangkan Kec. Pagedangan.

Atas keputusan bersama, anggota DPRD terpecah dua bagian, ada yang mengikuti rekomendasi Prof Sadu Wasistiono (tanpa Kec.Pagedangan) dan satu lagi mengikuti aspirasi masyarakat (dengan Kec. Pagedangan). Di dalam voting rapat paripurna, ternyata yang memilih tanpa Pagedangan justru lebih banyak. 

Sebagai langkah awal pembentukan Tangsel, Bupati Kabupaten Tangerang memekarkan Kec. Cisauk menjadi Kec. Cisauk dan Kec. Setu, Kec.Ciputat menjadi Kec. Ciputat dan Kec. Ciputat Timur, Kec.Serpong menjadi Kec. Serpong dan Kec. Serpong Utara. Untuk Kecamatan Cisauk setelah pemekaran, wilayahnya hanya berada di barat sungai Cisadane. Sedangkan sisanya yang berada di Timur Sungai Cisadane adalah wilayah Kec. Setu.

Pada akhirnya dalam rapat paripurna, ditetapkanlah pembentukan Kota Tangsel dengan batas wilayah Sungai Cisadane. Surat persetujuan dari DPRD dan Bupati setelah itu diserahkan kepada Gubernur Provinsi Banten yang mkemudian diserahkan berkasnya ke DPRD Propinsi Banten untuk dibahas. Setelah proses persetujuan DPRD Provinsi, berkas tersebut disampaikan ke Komisi II DPR-RI dan dibawa oleh Wakil Gubernur Banten bersama Bupati Kabupaten Tangerang dan Pansus Pemekaran Daerah DPRD Kabupaten Tangerang.

Pada tanggal 29 Oktober 2008, Kota Tangerang Selatan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, dengan tujuh kecamatan (Kec. Setu, Kec. Serpong, Kec. Serpong Utara, Kec. Pondok Aren, Kec. Pamulang, Kec. Ciputat, dan Kec. Ciputat Timur) hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang yang telah disetujui oleh DPRD Kabupaten Tangerang pada 27 Desember 2006.

SEJARAH KABUPATEN TANGERANG






SEJARAH KABUPATEN TANGERANG

Kabupaten Tangerang sejak ratusan tahun lalu sudah menjadi daerah perlintasan perniagaan, perhubungan sosial dan interaksi antardaerah lain. Hal ini, disebabkan letak daerah ini yang berada di dua poros pusat perniagaan Jakarta – Banten.
Secara tutur-tinular, masa pemerintahan pertama secara sistematis yang bisa diungkapkan di daerah dataran ini, adalah saat Kesultanan Banten yang terus terdesak agresi penjajah Belanda lalu mengutus tiga maulananya yang berpangkat aria untuk membuat perkampungan pertahanan di Tangerang.
Ketiga maulana itu adalah Maulana Yudanegara, Wangsakerta dan SAntika. Konon, basis pertahanan merka berada di garis pertahanan ideal yang kini disebut kawasan Tigaraksa dan membentuk suatu pemerintahan. Sebab itu, di legenda rakyat cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksasa [sebutan Tigaraksasa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan = tiangtiga = Tigaraksa.
Pemerintahan ketiga maulana ini, pada akhirnya dapat ditumbangkan dan seluruh wilayah pemerintahannya dikuasai Belanda, berdasar catatan sejarah terjadi tahun 1684. Berdasar catatan pada masa ini pun, lahir sebutan kota Tangerang. Sebutan Tangerang lahir ketika Pangeran Soegri, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian barat Sungai Cisadane [diyakini di kampung Gerendeng, kini].
Tugu itu disebut masyarakat waktu itu dengan Tangerang [bahasa Sunda=tanda] memuat prasasti dalam bahasa Arab Gundul Jawa Kuno, “Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/ Rengsenaperang netek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”
Arti tulisan prasasti itu adalah: “Dengan nama Allah tetap Yang Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/Untuk mempertahankan batas timur Cipamugas [Cisadae] dan barat Cidurian/ Semua menjaga tanah kaum Parahyang”
Diperkirakan sebutan Tangeran, lalu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang.
Desakan pasukan Belanda semakin menjadi-jadi di Banten sehingga memaksa dibuatnya perjanjian antar kedua belah pihak pada 17 April 1684 yang menjadikan daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Penjajah Belanda. Sebagai wujud kekuasaannya, Belanda pun membentuk pemerintahan kabupaten yang lepas dari Banten dengan dibawah pimpinan seorang bupati.
Para bupati yang sempat memimpin Kabupaten Tangerang periode tahun 1682 – 1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tak mampu lagi memerintah kabupaten Tangerang dengan baik, akhirnya penjajah Belanda menghapus pemerintahan di daerah ini dan memindahkan pusat pemerintahan ke Jakarta.
Lalu, dibuat kebijakan sebagian tanah di daerah itu dijual kepada orang-orang kaya di Jakarta, sebagian besarnya adalah orang-orang Cina kaya sehingga lahir masa tuan tanah di Tangerang.
Pada 8 Maret 1942, Pemerintahan Penjajah Belanda berakhir di gantikan Pemerintahan Penjajah Jepang. Namun terjadi serangan sekutu yang mendesak Jepang di berbagai tempat, sebab itu Pemerintahan Militer Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha pertahanan mereka sejak kekalahan armadanya di dekat Mid-way dan Kepulauan Solomon.
Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan [barisan bantu polisi] dan Seinendan [barisan pemuda]. Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta Ken ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Adapun Tangerang pada waktu itu masih berstatus Gun atau kewedanan berstatus ken (kabupaten).
Berdasar Kan Po No. 34/2604 yang menyangkut pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang, maka Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang menetapkan terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Tangerang. Sebab itu , kelahiran pemerintahan daerah ini adalah pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.
Dalam masa-masa proklamasi, telah terjadi beberpa peristiwa besar yang melibatkan tentara dan rakyat Kabupaten Tangerang dengan pasukan Jepang dan Belanda, yaitu Pertempuran Lengkong dan Pertempuran Serpong.
Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Tangerang sebagai daerah lintasan dan berdekatan dengan Ibukota Negara Jakarta melesat pesat. Apalagi setelah diterbitkannya Inpres No.13 Tahun 1976 tentang pengembangan Jabotabek, di mana kabupaten Tangerang menjadi daerah penyanggah DKI Jakarta.
Tanggal 28 Pebruari 1993 terbit UU No. 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Berdasarkan UU ini wilayah Kota Administratif Tangerang dibentuk menjadi daerah otonomi Kota Tangerang, yang lepas dari Kabupaten Tangerang. Berkaitan itu terbit pula Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1995 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Tangerang dari Wilayah Kotamadya Dati II Tangerang ke Kecamatan Tigaraksa.
Akhirnya, pada awal tahun 2000, pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pun di pindahkan Bupati H. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan daerah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah, diberlakukannya perimbangan keuangan pusat dan daerah, adanya revisi pajak dan retribusi daerah, serta terbentuknya Propinsi Banten.

Minggu, 08 Januari 2017

SEJARAH KOTA TANGERANG







SEJARAH KOTA TANGERANG

Awal mula berdirinya beberapa kerajaan dan kota besar di bumi ini umumnya diliputi mitos. Kekosongan data sejarah diisi dengan cerita legendaries.Demikian halnya dengan Roma, yang katanya didirikan oleh Romulus dan Romus, kakak beradik yang dibesarkan oleh seekor srigala.
Demikian juga juga diceritakan tentang negeri Matahari Terbit yang dikaitkan keturunan dewi matahari, yang sampai kini menghiasi bendera kebangsaan Jepang.
Tetapi tidak jika kita berbicara sejarah Tangerang, yang tidak bisa dilepaskan dari empat hal utama yang saling terkait. Keempat hal itu adalah peranan Sungai Cisadane; lokasi Tangerang di tapal batas antara Banten dan Jakarta; status bagian terbesar daerah Tangerang sebagai tanah partikelir dalam jangka waktu lama; dan bertemunya beberapa etnis dan budaya dalam masyarakat Tangerang.
Sungai Cisadane membujur dari selatan didaerah pegunungan ke utara di daerah pesisir.Sungai ini amat berperan penting dalam kehidupan masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) hingga dewasa ini.Yang berubah hanyalah jenis peranannya.
Sejak zaman kerajaan Tarumanegara (abad ke-15) hingga awal zaman Hindia Belanda (awal abad ke-19), sungai ini berperan sebagai sarana lalu lintas air yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir.Disamping itu, sungai Cisadane juga menjadi sumber penghidupan manusia yang bermukim di sepanjang DAS ini. Antara lain untuk mengairi areal persawahan dan perikanan di daerah dataran rendah bagian utara Tangerang.
Dengan peran yang pertama itu, hasil bumi dari daerah pedalaman (lada, beras, kayu, dan lain-lain) dapat dipasarkan ke daerah pesisir dan luar daerah Tangerang.Sebaliknya, keperluan hidup penduduk pedalaman seperti garam, kain, gerabah, dan lain-lain, dapat didatangkan daerah pesisir dan luar daerah Tangerang.Sementara, peranan kedua dapat meningkakan produksi pertanian, terutama produksi beras, selain untuk mencegah bahaya banjir.
Sejatinya, pada awal abad ke-16, zaman kerajaan Sunda, Tangerang tampil sebagai kota pelabuahn bersama-sama Banten dan Sunda Calapa sebagaimana tertulis dalam Summa Oriental karangan Tome Pires, orang Portugis yang memuat laporan kunjungan dari 1512-1515. Dokumen tersebut menurut A. Heuken SJ, ahli sejarah Jakarta, adalah dokumen tertua yang menyebut nama ini. Sunda Calapa atau Chia liu-pa (menurut Ma Huan, muslim China yang menulis laporan pelayaran armada Laksamana Zeng-Ho, yang kapal-kapalnya mengunjungi Pantai Ancol pada awal abad ke XV) adalah nama pelabuhan tertua di Jakarta.
Yang berbeda diantara ketiga pelabuhan di Tangerang, Banten dan Jakarta itu hanyalah tingkatan kualitas dan kuantitas kegiatannya. (sunda) Calapa menjadi pelabuhan paling sibuk ketika itu lantaran lokasinya paling dekat dan dapat berhubungan langsung melalui jlan darat dan jalan air (Sungai Ciliwung) dengan Pakuan Pajajaran yang menjadi ibu kota kerajaan Sunda.
Selain itu, (Sunda) Calapa menjadi pusat kota pelabuhan Kerajaan Sunda. Dibawahnya adalah kota pelabuhan Banten yang merupakan kota pelabuhan paling barat Pulau Jawa. Posisi Banten juga sangat strategis, setelah Malaka diduduki oleh Portugis pada 1511 lantaran Selat Sunda dan pesisir barat Sumatera menjadi jalur utama perdagangan. Sedangkan Pelabuhan Tangerang termasuk pelabuhan yang sepi hingga menempati peringkat paling bawah kesibukannya, karena lokasinya berada diantara dan berdekatan dengan Banten dan (Sunda) Calapa. Lokasi ketiga kota pelabuhan berada disekitar muara sungai, yaitu Sungai Cibanten bagi kota pelabuhan Banten, Sungai Cisadane bagi kota pelabuhan Tangerang, dan Sungai Ciliwung bagi kota pelabuhan Calapa.
Selanjutnya, sejak pertengahan abad ke-16 Banten dan Calapa (berubah menjadi Jayakarta sejak berada di bawah kuasa Islam pada 1527) mengembangkan diri menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan. Didukung oleh Cirebon dan Demak, Banten meningkat pesat sebagai pusat penyebaran agama Islam, pemerintahan, dan perniagaan laut (maritim) di Tatar Sunda bagian barat dan Sumatera bagian selatan. Puncak keemasan Kesultanan Banten berlangsung sekira pertengahan abad ke-17, pada masa pemerintahan Sultan Abulmafakir Mahmud Abdulkhadir (1596-1651) dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684).
Sedangkan, Jayakarta yang semula berperan sebagai penutup hubungan Pakuan Pajajaran ke dunia luar dan merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Banten, setelah jatuh ke dalam kekuasaan kompeni Belanda pada 1619 dan namanya diganti dengan Batavia, berhasil mengembangkan diri. Mula-mula Batavia berperan sebagai pusat kedudukan dan pusat perdagangan Kompeni (VOC) di Nusantara, kemudian sejak tahun 1800 menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan internasional pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Semenjak dasawarsa kedua 1600-an antara Banten dan Batavia berlangsung persaingan perdagangan yang keras.Di satu pihak, Kompeni Belanda mendesakkan keinginan untuk melakukan monopoli perdagangan diwilayah Kesultanan Banten. Namun di pihak lain, Sultan Banten sendiri mempertahankan sistem perdagangan bebas dan kedaulatan Negara. Saking kerasnya persaingan itu, alhasil berkembang menjadi konflik politik dan akhirnya konflik senjata.Mula-mula pada 1652, berbentuk konflik senjata secara tertutup, namun kemudian pad 1659 berbentuk perang terbuka.
Dalam suasana konflik itulah, kawasan Tangerang menjadi daerah pertahanan sekaligus medan pertempuran serta rebutan antara Banten dan Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, pihak Banten membangun benteng pertahanan di sebelah barat Sungai Cisadane dan pihak kompeni Belanda membangun benteng pertahanan di sebelah timur Sungai Cisadane. Itulah sebabnya, dulu daerah ini dikenal dengan nama Benteng, baru muncul nama Tangerang.
Dengan mengerahkan serdadu Kompeni secara besar-besaran, terutama serdadu sewaan yang berasal dari kalangan orang Nusantara sendiri, dan taktik adu-domba (devide et impera), secara bertahap wilayah Kesultanan Banten jatuh ketangan kekuasaan Kompeni Belanda. Mula-mula pada 1569, daerah sebelah timur Sungai Cisadane jatuh ke tangan Kompeni, kemudian tanah di sepanjang Sungai Cisadane sejak dari daerah hulu sampai ke muara dan daerah sebelah selatanSungaiCisadane sampai ke Laut Kidul (Samudra Hindia) ditetapkan masuk ke wilayah Batavia (1684).
Akhirnya pada 1809, Kesultanan Banten dihapuskan serta seluruh wilayahnya dimasukkan ke wilayah pemerintahan Hindia Belanda.Sejak saat itu, berakhirlah kedudukan Tangerang sebagai daeah tapal batas antara Banten dan Jakarta, karena seluruhnya berada dibawah kuasa pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Perubahan pemegang kekuasaan atas daerah Tangerang memberikan jalan bagi perubahan status daerah itu.Semula berstatus sebagai daerah rebutan antara Banten dan Batavia, Tangerang kemudian menjadi daerah partikelir di bawah Batavia.Sepetak demi sepetak tanah di Tangerang dikuasai oleh pihak partikelir secara perseorangan dan perusahaan.
Munculah sejumlah tuan tanah di daerah ini yang umumnya terdiri dari orang Belanda dan orang China. Disamping menguasai tanah garapan dan lingkungannya, mereka juga mneguasai penduduk yang bermukim di lahan itu. Penduduk setempat berkewajiban menggarap tanah milik tuan tanah dengan upah kecil, padahal mereka pun harus membayar berbagai pajak dan pungutan lainnya.
Karena itu, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara tingkat kesejahteraan tuan tanah dan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi. Selain itu, tuan tanah lebih berkuasa daripada pejabat pemerintahan pribumi. Tuan tanah dilindungi dan dibantu oleh sejumlah mandor yang bertindak sebagai jawara dan berstatus sebagai pegawai tuan tanah. Keberadaan dan fungsi jawara dalam masyarakat Tangerang masa itu menjadi gejala umum dan ciri khas lingkungan tanah partikelir.Situasi dan kondisi demikian membentuk struktur dan karakter masyarakat tersendiri dilingkungan tanah partikelir.

Pendidikan sekolah hampir tak tersentu oleh bagian terbesar penduduk pribumi.Mereka mengutamakan pendidikan informal dari guru agama Islam secara individual, atau pesantren-pesantren secara kelembagaan.Peran dan kedudukan orang keturunan China dan jawara dalam masyarakat Tangerang demikian berpengaruh besar terhadap suasana dan peristiwa selama revolusi kemerdekaan pada tahun 1945-1949.
Pada masa itu orang-orang keturunan China di daerah ini pernah menjadi sasaran amuk rakyat sebagai tindak balas dendam, dan amarah terhadap mereka karena dicurigai membantu pihak kolonial.Pernah pula dibentuk pemerintahan mandiri oleh kalangan jawara yang berjiwa merah dan bersikap kiri.Pemerintahan ini tak mengakui Republik Indonesia.Mereka mendirikan negara di dalam negara.
Pada mulanya, penduduk Tangerang boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda.Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangerang sebelah barat.
Keragaman etnis penduduk Batavia sebagai dampak kebijakan Kompeni Belanda di bidang kependudukan di Kota Batavia melahirkan ragam etnis dan budaya Melayu Betawi.Dinamakan demikian, karena mereka berbicara dalam bahasa Melayu sebagai alat komunikasi sosialnya dan bertempat tinggal di daerah Betawi, sebutan orang pribumi bagi Kota Batavia.Penduduk etnis dan budaya Betawi ini menyebar ke daerah sekeliling Kota Betawi, termasuk daerah Tangerang.Mereka menempati daerah pesisir sebelah timur dan daerah pedalaman timur Tangerang.
Kebijakan Kompeni tersebut melahirkan pula keturunan orang China dalam jumlah banyak di Kota Batavia yang menyebar ke daerah Tangerang, sebagai dampak dari pemberontakan orang-orang China di Kota Batavia pada 1740 dan lahirnya status tanah partikelir. Keturunan orang China ini tersebar di daerah tanah partikelir, terutama di daerah pesisir Tangerang sebelah timur.
Selanjutnya, kebudayaan mereka berasimilasi dengan kebudayaan Melayu Betawi.Dari pertemuan itu lahirlah jenis-jenis budaya yang bercirikan Melayu Betawi dan China yang kini populer disebut budaya Betawi, seperti teater lenong, tari topeng, dan lain-lain.
Dengan perkembangan penduduk seperti itu, peta penduduk dan budaya di Tangerang terbilang unik.Daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan China serta berbudaya Melayu Betawi.Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi.Daerah Tangerang Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda.Sedang daerah Tangerang Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa.
Dalam konteks keseluruhan pemerintahan di wilayah Tatar Sunda, kedudukan Tangerang mengalami beberapa kali perubahan dalam tingkat dan struktur pemerintahan. Sebagaimana telah dikemukakan, pada awal abad ke-16 Tangerang berstatus sebagai salah satu kota pelabuhan dalam lingkungan Kerajaan Sunda. Pada masa itu kota pelabuhan berada di bawah kuasa seorang syahbandar yang bertanggung jawab langsung kepada raja Sunda.
Ketika Tangerang berada di bawah kuasa Kesultanan Banten sejak 1526, sistem pemerintahannya berbentuk kemaulanaan dan pusat pemerintahannya berada di daerah pedalaman, yaitu di sekitar Tigaraksa sekarang.Tatkala sebagian daerah ini jatuh ke tangan Kompeni (sejak 1659), demi keamanan pemerintahan di daerah ini dipimpin oleh seorang komandan militer Belanda.
Namun, ketika seluruh daerah ini berada di bawah kuasa Kompeni Belanda dan stabilitas keamanannya telah tercapai sejak 1682, pemerintahan di daerah ini berbentuk kabupaten (regentschap) yang dipimpin oleh seorang bupati yang berasal dari kalangan penduduk pribumi.
Pada 1809 terjadi perubahan sistem pemerintahan secara menyeluruh di Hindia Belanda yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811).Tingkat dan struktur pemerintahan di daerah Tangerang berubah lagi. Kini Tangerang berada di bawah wilayah administrasi pemerintahan De stad Batavia, deOmmelanden, en Jacatrasche Preanger Regentschappen (Kota Batavia dan sekitarnya serta wilayah Jakarta-Priangan) yang kemudian disebut Keresidenan Batavia.
Daerah Tangerang disebut Batavia Barat dan berada di bawah perintah seorang Asisten Residen yang selalu dipegang oleh orang Belanda.Selanjutnya sejak tahun 1860-an, daerah ini berstatus afdeling yang disebut Afdeling Tangerang yang tetap dipimpin oleh Asisten Residen.Daerah Afdeling Tangerang dibagi atas tiga distrik, yaitu Tangerang Timur, Tangerang Selatan, dan Tangerang Utara yang selanjutnya (sejak 1880-an) masing-masing disebut Distrik Tangerang, Distrik Balaraja, dan Distrik Mauk; lalu ditambah dengan Distrik Curug.
Kepala distrik dipegang oleh orang pribumi yang jabatannya disebut demang, kemudian berubah jadi wedana.Tingkat dan struktur pemerintahan demikian di Tangerang berlangsung hingga akhir kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda (1942).
Pada zaman Jepang (1942-1945), Tangerang yang bertetangga dengan ibu kota pemerintah pusat Jakarta dipandang sebagai daerah strategis. Dengan demikian, tingkat dan struktur pemerintahannya dinaikkan jadi kabupaten, dan didirikanlah lembaga pendidikan militer (Seinendojo).
Pembentukan Kabupaten Tangerang didasarkan Maklumat Jakarta Syu Nomor 4 tanggal 27 Desember 2603 (1943), sedangkan peresmiannya dilakukan pada hari Selasa, 4 Januari 1944, bersamaan dengan pelantikan R. Atik Suardi menjadi Bupati Tangerang pertama.R Atik Suardi adalah aktivis yang kemudian (sejak akhir tahun 1920-an) jadi salah seorang pemimpin Paguyuban Pasundan, organisasi pergerakan nasional masyarakat Sunda.Ia pernah menjabat sebagai pembantu R. Pandu Suradiningrat di Gunseibu Jawa Barat.
Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 mendapat sambutan hangat dari para pemimpin dan masyarakat Tangerang. Wujudnya terdiri atas dua bentuk.Pertama, menegakkan kemerdekaan dengan cara membentuk pemerintahan daerah di Tangerang yang menunjang Proklamasi Kemerdekaan RI, mulai dari tingkat kabupaten ke bawah.
Kedua, mempertahankan kemerdekaan dengan cara menentang dan melawan pihak asing dan antek-anteknya yang berusaha untuk menjajah kembali dan pihak yang mau mendirikan negara sendiri yang tidak mengakui keberadaan Republik Indonesia. Terjadilah revolusi #emerdekaan! Akhirnya, kedaulatan Republik Indonesia bisa ditegakkan di Tangerang.
Kedudukan Kabupaten Tangerang dikukuhkan kembali pada awal masa Republik Indonesia (19 Agustus 1945) dan berlaku terus hingga kini.Kabupaten ini jadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat.
Sesuai dengan semangat dan tuntutan otonomi daerah serta perkembangan Kota Tangerang yang meningkat pesat, status pemerintahan di Kota Tangerang sendiri ditingkatkan. Tadinya kota itu adalah kota kecamatan, lalu jadi kota administratif. Kota Tangerang yang memiliki luas wilavah 17.729,794 hektar dibentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang.
Sebelumnya Kota Tangerang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten ‘I’angerang dengan status wilayah Kota Administratif Tangerang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1981.Dengan demikian, di Tangerang terdapat dua jenis pemerintahan daerah yang setara, yaitu Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.Sementara itu, dengan berdirinya Provinsi Banten (sejak 1999), Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang pun jadi bagian dari wilayah Provinsi Banten.

Asal Mula Nama Daerah Tangerang (Dulu bernama Tanggeran)
Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger danperang. Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17.Oleh sebab itu, ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata Tanggeran (dengan satu g maupun dobel g).Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang).Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut:


Bismillah peget Ingkang Gusti

Diningsun juput parenah kala Sabtu

Ping Gasal Sapar Tahun Wau

Rengsena Perang nelek Nangeran
Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa

Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu

Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah perang kita memancangkan Tugu
Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas(Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua menjaga tanah kaum Parahyang


Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng.Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana (Yudhanegara, Wangsakara dan Santika) yang diangkat oleh penguasa Banten.Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Agung Tirtoyoso (1651-1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten.Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut-turut gugur satu persatu.
Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684.Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda.Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng.Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”.Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.
Sebutan “Tangerang” menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945.Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosiekenseperti termuat dalam Po No. 34/2604.Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943.Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.